Market

CORE Teropong Ekonomi Nasional 2023 Tumbuh hingga 5 Persen

Ekonomi negara-negara barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa diproyeksikan menjadi rentan akibat lonjakan inflasi dan pengetatan moneter. Akan tetapi, Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia meneropong ekonomi nasional mampu tumbuh 4,5 hingga 5 persen pada 2023.

“Memandang ekonomi dunia tahun 2023, meskipun diprediksi tumbuh lebih lambat, kami di CORE Indonesia sebenarnya masih melihat peluang untuk tidak serta-merta jatuh ke jurang resesi,” kata Ekonom CORE Yusuf Rendy seperti dikutip Antara di Jakarta, Rabu (28/12/2022).

Menurut Yusuf, ekonomi negara-negara barat mungkin rentan, namun China yang menjadi mitra dagang terbesar banyak negara termasuk Indonesia menunjukkan indikasi perbaikan. Ini sejalan dengan semakin terkendalinya penyebaran COVID-19.

Begitu juga dengan inflasi global pada 2023 yang memang masih berpotensi meningkat, namun CORE memperkirakan tingkat inflasi diprediksi lebih rendah dibandingkan 2022. Ini tidak banyak mengganggu tingkat konsumsi secara agregat.

Kendati demikian, dampak dari inflasi global masih akan menekan daya beli masyarakat berpendapatan rendah dan kemungkinan juga masih menahan pemulihan mobilitas jarak jauh.

“Konsumsi rumah tangga diprediksi tetap kuat dan melampaui tingkat konsumsi pra-pandemi, meskipun pertumbuhannya melambat marginal akibat tekanan global,” ujarnya.

Selain itu, pengetatan moneter diprediksi lebih terbatas karena berkurangnya tekanan inflasi global dan domestik. Investasi pun diprediksi akan kembali menjadi penyumbang kedua terbesar pertumbuhan ekonomi di tahun 2023.

“Pertumbuhan investasi swasta tidak banyak terganggu oleh tekanan ekonomi global. Meski demikian, surplus perdagangan diprediksi menyempit karena pelemahan permintaan sebagian negara tujuan ekspor utama dan juga pelemahan harga komoditas khususnya komoditas non-energi,” ucapnya.

CORE memprediksi akan terjadi peningkatan penanaman modal tetap bruto (PMTB) terutama pada sektor sekunder (manufaktur) dan sektor jasa. Peningkatan PMTB manufaktur terutama didorong oleh terus berkembangnya industri hilir turunan komoditas tambang seperti nikel yang digalakkan oleh pemerintah.

Sementara itu, PMTB di sektor jasa berkembang sejalan dengan semakin terkendalinya pandemi dan meningkatnya mobilitas masyarakat. Permintaan domestik yang masih kuat itu pun kemudian akan memberikan optimisme investor untuk terus berinvestasi di Indonesia.

Ia pun menyarankan Pemerintah untuk memperhatikan investasi sebagai upaya mempertahankan kinerja perekonomian di tahun kelinci air tersebut.

“Tentu bersamaan dengan itu menjaga daya beli masyarakat dan memanfaatkan ruang fiskal yang sebenarnya relatif ketat akan menjadi dua faktor utama lain yang mendorong ataupun penting dalam upaya mempertahankan kinerja ekonomi di tahun depan,” imbuh Yusuf.

Sebelumnya, pemerintah dan DPR menetapkan asumsi dasar ekonomi makro APBN 2023 di mana pertumbuhan ekonomi nasional dipatok tetap di level 5,3 persen.

Back to top button