Bisnis

Yang Jantungnya Kuat, Boleh Pilih Saham BUMI

Rabu, 21 Sep 2022 – 04:30 WIB

(Foto: Inilah.com/Didik Setiawan)

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali ramai ditransaksikan akhir-akhir ini setelah sempat terkurung di harga gocap. Namun, analis menyarankan, hanya bagi pelaku pasar yang jantungnya kuat boleh melirik saham yang pernah berjuluk ‘sejuta umat’ ini. Mengapa?

Pada perdagangan Selasa (20/9/2022), saham BUMI ditutup stagnan di Rp168 per unit saham. Harga intraday tertingginya berada di Rp174 dan terendahnya di angka merah Rp157 dari posisi pembukaan di angka hijau Rp170 dan posisi sehari sebelumnya di Rp168. Jumlah saham yang ditransaksikan mencapai Rp80,8 miliar lot dengan nilai Rp1,31 triliun.

“Saham batu bara kan BUMI yang ramai (ditransaksikan). Kalau ingat saham BUMI di zaman dulu, kalau saya sih melihat sejarah, ya sudah pilih saham yang jelas-jelas saja,” kata Pengamat dan Praktisi Pasar Modal Irwan Ariston Napitupulu kepada Inilah.com di Jakarta, baru-baru ini.

Namun, Irwan menggarisbawahi, bukan berarti saham BUMI tidak bisa naik. “Permasalahannya, saham BUMI sekarang sudah mulai ramai ditransaksikan. Orang berbondong-bondong ke sana. Tapi, pakailah uang yang bisa kita terima kalau terjadi kenapa-napa,” ujarnya seraya mewanti-wanti.

Sejak 4 Juli 2022, saham BUMI mengalami tren kenaikan dari Rp66 per unit saham ke Rp216 pada penutupan 6 September 2022 dengan level tertinggi di Rp246. Artinya, dalam kurun kurang dari tiga bulan saham BUMI menguat Rp180 atau setara 272,7%. Setelah itu, salah satu saham grup Bakrie ini mengalami penurunan kembali ke Rp168 per unit saham pada penutupan Selasa (20/9/2022).

Menurut dia, tren kenaikan saham BUMI lantaran adanya rencana rights issue tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu alias HMETD. “Intinya ada investor masuk setelah saya lihat beritanya,” ujarnya.

Setelah aksi korporasi itu, lanjut dia, utang BUMI yang terkait dengan masa lalu diekspektasikan cenderung lunas. Akan tetapi, untuk utang yang terkait operasional tetap ada. “Hal ini otomatis berpengaruh positif di mana akan tetap ada perbaikan kinerja keuangannya,” ucapnya.

Namun, Irwan kembali menegaskan, emiten BUMI memiliki masalah dengan keterbukaan pihak manajemen. “Saya melihat masa lalu yang kurang bagus. Selama direksi masih kurang lebih sama, orang-orang yang sama, gimana ya,” timpal Irwan.

Irwan mengaku mendengar kabar, grup Salim akan masuk menjadi investor. “Jika masuk, semoga manajemen BUMI membaik,” ungkap dia penuh harap.

Hanya saja, lagi-lagi ia menegaskan, risiko di saham BUMI lebih tinggi daripada saham-saham batu bara lain. “Bukan berarti, BUMI enggak bisa untung. Yang lebih kuat jantungnya, kalau mau main saham BUMI ya silahkan,” tukasnya.

Menurutnya, saham BUMI sedang diwarnai banyak cerita yang akan berpengaruh pada volatilitas harga sahamnya. “Jika grup Salim masuk, seharusnya tidak terjadi keribetan semacam financial engineering seperti zaman dulu. Tinggal apakah Salim masuk di BUMI myoritas atau minoritas,” papar Irwan.

Sejauh ini, kata dia, rumornya grup Salim akan masuk di saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang core bisnisnya adalah industri infrastruktur batu bara. “Walaupun, ini belum confirmed ya,” tuturnya.

Proyek-proyek infrastruktur untuk menambang baru bara, sambung Irwan, saat ini sedang berkembang bagus dan prospektif jika dilihat dalam beberapa tahun ke depan.

“Saya takutnya, hit and run saja. Untuk saham model-model begini ya hati-hati saja. Kita sudah punya pengalaman dulu. Ya belajar saja dari pengalaman supaya tidak terulang,” imbuhnya seraya mengingatkan.

Disclaimer: Pelajari dengan teliti sebelum membeli atau menjual saham. Inilah.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button