Kendari

Bappeda Sultra Laksanakan Kegiatan penilaian kinerja, upaya penurunan stunting

KENDARI – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), melakukan penilaian kinerja, sebagai upaya penurunan stunting terintegrasi tingkap Provinsi Sultra tahun 2022, Selasa (24/5/2022).

Kepala Bappeda Sultra, Johannes Robert mengatakan penilaian kinerja penurunan stunting tersebut untuk tujuh kabupaten, yakni Kabupaten Kolaka, Buton, Muna, Buton Selatan, Wakatobi, Kolaka Timur dan Konawe Kepulauan.

Baca juga: Dinsos Kendari Beri Pelatihan Pada Puskesos Tentang Penguatan SDM Terkait SLRT

Penilaian itu kata dia, merupakan salah satu cerminan terkait dengan komitmen seluruh pihak terkait untuk bergerak bersama dalam melakukan upaya percepatan penurunan stunting.

Ia mengatakan, stunting terjadi akibat kekurangan gizi mikro yang ada pada manusia, terutama pada saat usia pertumbuhan maupun usia kehamilan.

“Gizi mikro itu seperti, vitamin A, zat besi Kemudian yodium dan seterusnya,” sebutnya.

Dimana hal tersebut akan membentuk generasi baru yang kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) nya akan sangat rendah, ditandai dengan fisik yang abnormal.

“Seperti tidak terlalu tinggi, kemudian tingkat IQ nya rendah,” ucapnya.

Sehingga kedepannya ia berharap, stunting bisa diminimalisir atau ditekan, sehingga bisa menciptakan SDM yang berkualitas dan tentunya dapat berkontribusi dalam pembangunan.

Tempat sama, Kepala Bidang Pembangunan Manusia dan Masyarakat, Laode Muhammad Ali mengatakan, penilaian itu bermaksud sebagai upaya pembinaan dan pengawasan untuk meningkatkan keperbaruan intervensi gizi.

“Dalam rangka percepatan penurunan stunting, yang merupakan salah satu prioritas nasional dalam RPJMN tahun 2020-2024,” ungkapnya.

Giat itu juga bertujuan untuk mengukur tingkat kinerja-kinerja Kabupaten Kota dalam pelaksanaan delapan aksi konvergensi penurunan stunting.

Delapan aksi konvergensi penurunan stunting, yaitu analisis situasi, rencana kegiatan, rembuk stunting, Perbup/Perwali Kewenangan Desa, Pembinaan Kader Pembangunan Masyarakat, manajemen data, pengukuran dan publikasi stunting, serta review kinerja tahunan.

Sementara itu Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sultra, Asmar dalam pemaparannya mengatakan, dalam upaya pencegahan stunting tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi yang seimbang saja, akan tetapi lingkungan yang bersih dan berkualitas juga turut memiliki andil yang sama. Sehingga selain pemenuhan gizi, lingkungan tempat anak-anak itu tumbuh dan berkembang juga harus diperhatikan.

Baca juga: DPD Golkar Sultra Laksanakan Konsolidasi Untuk Mempererat Silaturahmi

“Pemenuhan gizi ibu dan anak ini memang sesuatu hal yang harus diperhatikan untuk mencegah stunting. Akan tetapi yang tidak kalah penting juga yakni kesehatan calon ibu dan ayah sebelum menikah. Sehingga kami dari BKKBN bekerjasama dengan pihak KUA agar sebelum mendaftarkan calon pengantin ini untuk dinikahkan, mereka terlebih dahulu dites baik itu berat badan, tinggi, lingkar lengan, dan tekanan darahnya,”Ujar Kepala BKKBN Sultra saat membawakan materi.

Ia berharap, dengan adanya tes awal kesehatan calon ayah dan ibu ini bisa menurunkan angka stunting di Sultra terlebih lagi di Indonesia. Sehingga ketika ibu dan ayah ini sehat, maka nantinya anak yang akan dilahirkan itu sehat dan tercegah dari yang namanya stunting.

“Calon orang tua yang sehat, anak yang terpenuhi gizinya dan lingkungan yang sehat dan berkualitas maka stunting itu tidak akan mungkin terjadi. Sehingga jika anak-anak kita sehat, maka masa depan bangsa ini kedepannya akan cerah,” Harapnya.

Beri Komentar (menggunakan Facebook)

Back to top button